-
13
Jandeaf tone - tone deaf

”Menyanyilah sepuasnya sebelum menyanyi itu dilarang.”
Ini tentang sekitar empat tahun lalu. Suasana lapangan upacara yang disulap dengan parkiran mobil di tepinya dan beberapa seliweran murid berseragam putih abu-abu yang lalu lalang, sedang digunakan oleh anak paskibra sekolah untuk latihan persiapan tes paskibra kota. Siang itu sekitar pukul 12.00 ke atas. Jadwal latihan adalah latihan danton.
Danton adalah pemimpin barisan/pasukan. Yang biasanya meneriakkan aba-aba untuk dijalankan perintahnya oleh barisan yang dipimpinnya.
Masih teringat waktu itu hubungan antara senior-junior, angkatan XIII dan angkatan XIV maksudnya, masih bernuansa senioritas. Artinya, belum ada keberanian yang lebih untuk mengakrabkan diri dengan para senior. Masih belum terlalu mengetahui sisi dalam para senior. Masih saling menghormati dan tertakuti (lha?? ;)).
Mas Binsar, nama salah satu senior yang memimpin latihan danton siang itu. Lupa siapa saja waktu itu yang ikut latihan danton, tapi yang pasti aku termasuk yang ikut. Mas Binsar menyuruh tiap anak maju satu langkah kemudian meneriakkan dua buah perintah.
Misalkan: “Langkah tegap majuuuu…jalan!”
atau “Lencang kanan..grak!”
atau “Haluan kanan….jalan!”
atau lainnya.
Tanpa dipanggil, kami berurutan maju satu langkah ketika Mas Binsar mendatangi kami satu per satu. Maksud mendatangi tsb adalah Mas Binsar hendak ngecek kelantangan suara kami sambil memberi koreksi. Jadi butuh didatangi satu per satu ketika ada yang sedang mendapat giliran.
Dan tibalah… giliranku!
perintah pertama yang kupilih:
“Langkah tegap majuuuuu…jal*&^%$$%^”
Suaraku mbeleot! Tiba2 suara cempreng terdengar membahana! Dan wajah kereng Mas Binsar meledak konyol dengan gaya tertawanya yg sangat ngakak!
Semua peserta juga ngakak.
Mas Binsar berusaha mengembalikan kewibawaannya lagi dengan menahan tawanya untuk keluar.. Efeknya, juga sangat lucu. Membuatku tertawa melihat seniorku itu pura2 berwajah jahat sehabis tertawa terpingkal!
Mas Binsar memarahiku. Menyuruhku serius.
Aku merubah wajahku menjadi serius lagi dan bersiap mencoba aba-aba selanjutnya.
Kuuluangi lagi aba-aba yang sebelumnya dan aku tetap masih mbeleot ketika suaraku melengking di kata ‘jalan!’ pada aba-aba ‘langkah tegap maju…jalan!’
Lebih parah dari sebelumnya, riuh tawa semakin membuat latihan tak kondusif. Mas Binsar pun setengah mati menahan tawanya atas suaraku yang mbeleot tadi dan menyuruhku lebih serius untuk latihan. Menyuruhku memilih aba-aba yang pendek. Menyuruhku mencoba sekali lagi meneriakkan aba-aba.
oke.., aku benar2 bertekad amat sangat lebih serius. Aku juga nggak mau malu-maluin lagi dengan kembeleotan suaraku (lagi). Kupilih perintah ini:
“Hormaaaaaat… gra*&^%%$^”
#@@@@@@**** tamat riwayatku! Suaraku tetap mbeleot!
Riuh tawa kembali membanjiri suasana lapangan upacara yang untungnya sedang juga riuh. Hanya anak-anak paskibra yang mengetahui kembeleotan suaraku :(
Mas Binsar akhirnya menyuruhku stop dan beralih ke giliran selanjutnya, demi meredam ketidakkondusifan kondisi akibat kekonyolan suaraku tadi.
————————————————————————————-
Masih sekitar empat tahun yang lalu. Secara giliran tiap kelas akan mendapat giliran jam kosong untuk muridnya dites sebagai anggota aubade. Aubade itu semacam paduan suara masal untuk menyanyi di grahadi pada peringatan HUT RI. Kelasku mendapat giliran sekitar setelah jam istirahat.
Per anak masuk ruangan dan disuruh membunyuikan doremifasolasido. Aku merasa sangat kesulitan membunyikannya.. Nadanya tidak karu-karuan. Dan yahh.., hasilnya tidak bagus. *tidak kaget
Tes anggota aubade semacam itu ada tiap tahun tiap mendekati HUT RI. dan selama tiga tahun, hanya sekali aku ikut terpilih. Entah atas dasar apa.., kok ya ditempatkan di sopran (suara tinggi cewek).
Bukan suatu kebanggan sih menjadi anggota aubade, cuma yah.., seneng aja, sering ijin keluar kelas untuk latihan aubade. Jaman SMA kan meninggalkan pelajaran itu suatu kenikmatan tersendiri :D *astaghfirullah…
Sejak tes tes nada itu lah aku sadar…, aku buta nada. Sulit sekali membunyikan nada rendah, tinggi, sedang.
Sebenarnya kesimpulan tsb (buta nada/tone deaf) bukan diambil berdasar atas tes danton atau tes aubade, melainkan juga diambil dari pengalaman-pengalaman sebelumnya. Salah satunya adalah dari pengalaman menjadi penyanyi amatiran alias suka nyanyi sendiri. Tiap kali menyanyi, aku merasa tidak bisa menyanyi dengan nada yang tepat. Mainkan sebuah lagu kemudian biarkan aku ikut menyanyi sambil lagunya berjalan, lalu hentikan lagunya…dan bisa bayangkan apa yang terjadi??
*&^%$@@@@@
Iyes, lagu tadi pasti jadi tidak karu-karuan nadanya jadinya, dibuatku -____-
Untuk alasan tersirat dari ulasan sebelumnya, aku tidak lebih suka menyanyi di hadapan orang banyak. Aku tidak suka karaokean. Aku malas pergi ke tempat karaoke meski itu gratis. Aku malu untuk ikut nimbrung nyanyi ketika ada lagu yang sedang main dan sedang hit sehingga memancing pendengarnya bernyanyi meski beramai-ramai menirukan.
Apakah buta nada merupakan penyakit sejenis buta warna? entahlah…
Apa penyebabnya??
Salah satu teman pernah berpendapat itu karena aku tidak bisa memainkan satu pun alat musik.
*Apa iya ya??
Tidak tahu juga. Ya itu lah.. Tidak ada hukum mana pun di negara manapun di dunia ini yang melarang warga negaranya untuk menyanyi. Juga tidak ada peraturan mana pun yang membatasi orang untuk menyanyi.
Hanya peraturan pribadi yang tanpa sadar mematri peraturan dan larangan menyanyi bagi diri sendiri. Bagi yang butanada ini. Bagi orang yang jika menyanyi takutnya malah akan menghadirkan externalitas negatif tersendiri bagi yang lain.
Kadang-kadang juga pengen sih bisa nada-nada gitu. Tapi yaa…..mau gimana lagi. :D

-
“………..Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil....”
-
Dear Allah...
Dear Allah,..
please help me by securing my heart and iman. If he is meant for me,...
-
“itulah pesimis positif. Tetap melakukan sesuatu, tetapi dengan menekan dorongan keinginan dan...”
-
Tadabur hari ini,, berikan kesembuhan padanya ya Allah
Subuh ini sangat dingin terasa, air wudhu...
