-
180
27
Jan"Ya Allah, ku mohon Engkau buka besar-besar hati ini untuk menerima ujian-Mu. Letakkanlah rasa redha ke dalam hati ini, ya Rabb. Jangan Kau buat hati ini tersesat kerana perasaan yang melampau, ya Allah. Engkaulah penentu takdirku. Engkaulah Pencipta-ku. Engkaulah yang maha Esa. Ya Allah, dengarlah rayuan hamba-Mu ini. Alhamdulillah, hati rasa sedih. Alhamdulillah, Engkau menguji ku. Alhamdulillah, Engkau betulkan hakikat hidup ini. Maka Engkau lapangkanlah dada ini dan rehatkanlah ia. Sungguh sedih hati ini apabila mengetahui bahawa diri tidak mampu mengawal perasaan ini. Jadikanlah aku diantara orang-orang yang sabar, Ya Rabb. Ya Allah. Ya Rahman. Ya Rahim."
- (via al-aadiyat)(via annisanis)
-
30
27
Jan"…. aku tidak akan merendahkan kehormatan wanita dengan memegang tangannya …"
-dialog antara Borno dan Andi
( : 117 )
Kau , Aku , dan Sepucuk Angpau Merah - Tere Liye
(via kurniawangunadi)
(via annisanis)
-
21
Jan -
21
Jan
panitia LMTC (Lebah Muda Training Center) akhwat setelah acara outbond dengan adek2 SMP-SMA :)
(Mb Asti - Dek Maritsa - saya - Dek Hanif - Dek Mafaza - Dek Diana - Mb Widya)
-
21
JanJadilah Seperti Lebah

Rasulullah saw. bersabda, “Perumpamaan orang beriman itu bagaikan lebah. Ia makan yang bersih, mengeluarkan sesuatu yang bersih, hinggap di tempat yang bersih dan tidak merusak atau mematahkan (yang dihinggapinya).” (Ahmad, Al-Hakim, dan Al-Bazzar)
Seorang mukmin adalah manusia yang memiliki sifat-sifat unggul. Sifat-sifat itu membuatnya memiliki keistimewaan dibandingkan dengan manusia lain. Sehingga di mana pun dia berada, kemana pun dia pergi, apa yang dia lakukan, peran dan tugas apa pun yang dia emban akan selalu membawa manfaat dan maslahat bagi manusia lain. Maka jadilah dia orang yang seperti dijelaskan Rasulullah saw., “Manusia paling baik adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi manusia lain.”
Kehidupan ini agar menjadi indah, menyenangkan, dan sejahtera membutuhkan manusia-manusia seperti itu. Menjadi apa pun, ia akan menjadi yang terbaik; apa pun peran dan fungsinya maka segala yang ia lakukan adalah hal-hal yang membuat orang lain, lingkungannya menjadi bahagia dan sejahtera.
Nah, sifat-sifat yang baik itu antara lain terdapat pada lebah. Rasulullah saw. dengan pernyataanya dalam hadits di atas mengisyaratkan agar kita meniru sifat-sifat positif yang dimiliki oleh lebah. Tentu saja, sifat-sifat itu sendiri memang merupakan ilham dari Allah swt. seperti yang Dia firmankan, “Dan Rabbmu mewahyukan (mengilhamkan) kepada lebah: ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Rabbmu yang telah dimudahkan (bagimu).’ Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan.” (An-Nahl: 68-69)
Sekarang, bandingkanlah apa yang dilakukan lebah dengan apa yang seharusnya dilakukan seorang mukmin, seperti berikut ini:
Hinggap di tempat yang bersih dan menyerap hanya yang bersih.
Lebah hanya hinggap di tempat-tempat pilihan. Dia sangat jauh berbeda dengan lalat. Serangga yang terakhir amat mudah ditemui di tempat sampah, kotoran, dan tempat-tempat yang berbau busuk. Tapi lebah, ia hanya akan mendatangi bunga-bunga atau buah-buahan atau tempat-tempat bersih lainnya yang mengandung bahan madu atau nektar.
Begitulah pula sifat seorang mukmin. Allah swt. berfirman:
Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan adalah musuh yang nyata bagimu. (Al-Baqarah: 168)
(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Al-A’raf: 157)
Karenanya, jika ia mendapatkan amanah dia akan menjaganya dengan sebaik-baiknya. Ia tidak akan melakukan korupsi, pencurian, penyalahgunaan wewenang, manipulasi, penipuan, dan dusta. Sebab, segala kekayaan hasil perbuatan-perbuatan tadi adalah merupakan khabaits (kebusukan).
Mengeluarkan yang bersih.
Siapa yang tidak kenal madu lebah. Semuanya tahu bahwa madu mempunyai khasiat untuk kesehatan manusia. Tapi dari organ tubuh manakah keluarnya madu itu? Itulah salah satu keistimewaan lebah. Dia produktif dengan kebaikan, bahkan dari organ tubuh yang pada binatang lain hanya melahirkan sesuatu yang menjijikan. Belakangan, ditemukan pula produk lebah selain madu yang juga diyakini mempunyai khasiat tertentu untuk kesehatan: liurnya!
Seorang mukmin adalah orang yang produktif dengan kebajikan. “Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (Al-Hajj: 77)
Al-khair adalah kebaikan atau kebajikan. Akan tetapi al-khair dalam ayat di atas bukan merujuk pada kebaikan dalam bentuk ibadah ritual. Sebab, perintah ke arah ibadah ritual sudah terwakili dengan kalimat “rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu” (irka’u, wasjudu, wa’budu rabbakum). Al-khair di dalam ayat itu justru bermakna kebaikan atau kebajikan yang buahnya dirasakan oleh manusia dan makhluk lainnya.
Segala yang keluar dari dirinya adalah kebaikan. Hatinya jauh dari prasangka buruk, iri, dengki; lidahnya tidak mengeluarkan kata-kata kecuali yang baik; perilakunya tidak menyengsarakan orang lain melainkan justru membahagiakan; hartanya bermanfaat bagi banyak manusia; kalau dia berkuasa atau memegang amanah tertentu, dimanfaatkannya untuk sebesar-besar kemanfaat manusia.
Tidak pernah merusak
Seperti yang disebutkan dalam hadits yang sedang kita bahas ini, lebah tidak pernah merusak atau mematahkan ranting yang dia hinggapi. Begitulah seorang mukmin. Dia tidak pernah melakukan perusakan dalam hal apa pun: baik material maupun nonmaterial. Bahkan dia selalu melakukan perbaikan-perbaikan terhadap yang dilakukan orang lain dengan cara-cara yang tepat. Dia melakukan perbaikan akidah, akhlak, dan ibadah dengan cara berdakwah. Mengubah kezaliman apa pun bentuknya dengan cara berusaha menghentikan kezaliman itu. Jika kerusakan terjadi akibat korupsi, ia memberantasnya dengan menjauhi perilaku buruk itu dan mengajukan koruptor ke pengadilan.
Bekerja keras
Lebah adalah pekerja keras. Ketika muncul pertama kali dari biliknya (saat “menetas”), lebah pekerja membersihkan bilik sarangnya untuk telur baru dan setelah berumur tiga hari ia memberi makan larva, dengan membawakan serbuk sari madu. Dan begitulah, hari-harinya penuh semangat berkarya dan beramal. Bukankah Allah pun memerintahkan umat mukmin untuk bekerja keras?“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (Alam Nasyrah: 7)
Kerja keras dan semangat pantang kendur itu lebih dituntut lagi dalam upaya menegakkan keadilan. Karena, meskipun memang banyak yang cinta keadilan, namun kebanyakan manusia –kecuali yang mendapat rahmat Allah– tidak suka jika dirinya “dirugikan” dalam upaya penegakkan keadilan.
Bekerja secara jama’i dan tunduk pada satu pimpinan
Lebah selalu hidup dalam koloni besar, tidak pernah menyendiri. Mereka pun bekerja secara kolektif, dan masing-masing mempunyai tugas sendiri-sendiri. Ketika mereka mendapatkan sumber sari madu, mereka akan memanggil teman-temannya untuk menghisapnya. Demikian pula ketika ada bahaya, seekor lebah akan mengeluarkan feromon (suatu zat kimia yang dikeluarkan oleh binatang tertentu untuk memberi isyarat tertentu) untuk mengudang teman-temannya agar membantu dirinya. Itulah seharusnya sikap orang-orang beriman. “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Ash-Shaff: 4)
Tidak pernah melukai kecuali kalau diganggu
Lebah tidak pernah memulai menyerang. Ia akan menyerang hanya manakala merasa terganggu atau terancam. Dan untuk mempertahankan “kehormatan” umat lebah itu, mereka rela mati dengan melepas sengatnya di tubuh pihak yang diserang. Sikap seorang mukmin: musuh tidak dicari. Tapi jika ada, tidak lari.
Itulah beberapa karakter lebah yang patut ditiru oleh orang-orang beriman. Bukanlah sia-sia Allah menyebut-nyebut dan mengabadikan binatang kecil itu dalam Al-Quran sebagai salah satu nama surah: An-Nahl. Allahu a’lam.

[]Sumber : www.dakwatuna.com
-
52
15
Jan"Cara untuk belajar menjadi istri yang terbaik, hanyalah melalui suami. Cara untuk menjadi suami terbaik, hanyalah melalui istri. Tidak bisa melalui pacaran. Pacaran hanya mengajarkan bagaimana caranya menjadi pacar terbaik, bukan suami atau istri terbaik."
-Pak Didik P (hal.74)
(Source: annisaadejanira, via annisanis)
-
15
Jan"Semoga Engkau kan tetap dengan imanmu yang kokoh, langkahmu yang tegap dan semangatmu yang mengelora. ..Dan kau kan tersenyum, terkejut ketika amalmu hadir dan menjadi payung dalam panasnya alam akhirat sana.
Dan sebait doa ku semoga Allah anugerahkan keistiqamahan dalam dirimu.."- Sumber: http://dakwatuna.com -
13
Jandeaf tone - tone deaf

”Menyanyilah sepuasnya sebelum menyanyi itu dilarang.”
Ini tentang sekitar empat tahun lalu. Suasana lapangan upacara yang disulap dengan parkiran mobil di tepinya dan beberapa seliweran murid berseragam putih abu-abu yang lalu lalang, sedang digunakan oleh anak paskibra sekolah untuk latihan persiapan tes paskibra kota. Siang itu sekitar pukul 12.00 ke atas. Jadwal latihan adalah latihan danton.
Danton adalah pemimpin barisan/pasukan. Yang biasanya meneriakkan aba-aba untuk dijalankan perintahnya oleh barisan yang dipimpinnya.
Masih teringat waktu itu hubungan antara senior-junior, angkatan XIII dan angkatan XIV maksudnya, masih bernuansa senioritas. Artinya, belum ada keberanian yang lebih untuk mengakrabkan diri dengan para senior. Masih belum terlalu mengetahui sisi dalam para senior. Masih saling menghormati dan tertakuti (lha?? ;)).
Mas Binsar, nama salah satu senior yang memimpin latihan danton siang itu. Lupa siapa saja waktu itu yang ikut latihan danton, tapi yang pasti aku termasuk yang ikut. Mas Binsar menyuruh tiap anak maju satu langkah kemudian meneriakkan dua buah perintah.
Misalkan: “Langkah tegap majuuuu…jalan!”
atau “Lencang kanan..grak!”
atau “Haluan kanan….jalan!”
atau lainnya.
Tanpa dipanggil, kami berurutan maju satu langkah ketika Mas Binsar mendatangi kami satu per satu. Maksud mendatangi tsb adalah Mas Binsar hendak ngecek kelantangan suara kami sambil memberi koreksi. Jadi butuh didatangi satu per satu ketika ada yang sedang mendapat giliran.
Dan tibalah… giliranku!
perintah pertama yang kupilih:
“Langkah tegap majuuuuu…jal*&^%$$%^”
Suaraku mbeleot! Tiba2 suara cempreng terdengar membahana! Dan wajah kereng Mas Binsar meledak konyol dengan gaya tertawanya yg sangat ngakak!
Semua peserta juga ngakak.
Mas Binsar berusaha mengembalikan kewibawaannya lagi dengan menahan tawanya untuk keluar.. Efeknya, juga sangat lucu. Membuatku tertawa melihat seniorku itu pura2 berwajah jahat sehabis tertawa terpingkal!
Mas Binsar memarahiku. Menyuruhku serius.
Aku merubah wajahku menjadi serius lagi dan bersiap mencoba aba-aba selanjutnya.
Kuuluangi lagi aba-aba yang sebelumnya dan aku tetap masih mbeleot ketika suaraku melengking di kata ‘jalan!’ pada aba-aba ‘langkah tegap maju…jalan!’
Lebih parah dari sebelumnya, riuh tawa semakin membuat latihan tak kondusif. Mas Binsar pun setengah mati menahan tawanya atas suaraku yang mbeleot tadi dan menyuruhku lebih serius untuk latihan. Menyuruhku memilih aba-aba yang pendek. Menyuruhku mencoba sekali lagi meneriakkan aba-aba.
oke.., aku benar2 bertekad amat sangat lebih serius. Aku juga nggak mau malu-maluin lagi dengan kembeleotan suaraku (lagi). Kupilih perintah ini:
“Hormaaaaaat… gra*&^%%$^”
#@@@@@@**** tamat riwayatku! Suaraku tetap mbeleot!
Riuh tawa kembali membanjiri suasana lapangan upacara yang untungnya sedang juga riuh. Hanya anak-anak paskibra yang mengetahui kembeleotan suaraku :(
Mas Binsar akhirnya menyuruhku stop dan beralih ke giliran selanjutnya, demi meredam ketidakkondusifan kondisi akibat kekonyolan suaraku tadi.
————————————————————————————-
Masih sekitar empat tahun yang lalu. Secara giliran tiap kelas akan mendapat giliran jam kosong untuk muridnya dites sebagai anggota aubade. Aubade itu semacam paduan suara masal untuk menyanyi di grahadi pada peringatan HUT RI. Kelasku mendapat giliran sekitar setelah jam istirahat.
Per anak masuk ruangan dan disuruh membunyuikan doremifasolasido. Aku merasa sangat kesulitan membunyikannya.. Nadanya tidak karu-karuan. Dan yahh.., hasilnya tidak bagus. *tidak kaget
Tes anggota aubade semacam itu ada tiap tahun tiap mendekati HUT RI. dan selama tiga tahun, hanya sekali aku ikut terpilih. Entah atas dasar apa.., kok ya ditempatkan di sopran (suara tinggi cewek).
Bukan suatu kebanggan sih menjadi anggota aubade, cuma yah.., seneng aja, sering ijin keluar kelas untuk latihan aubade. Jaman SMA kan meninggalkan pelajaran itu suatu kenikmatan tersendiri :D *astaghfirullah…
Sejak tes tes nada itu lah aku sadar…, aku buta nada. Sulit sekali membunyikan nada rendah, tinggi, sedang.
Sebenarnya kesimpulan tsb (buta nada/tone deaf) bukan diambil berdasar atas tes danton atau tes aubade, melainkan juga diambil dari pengalaman-pengalaman sebelumnya. Salah satunya adalah dari pengalaman menjadi penyanyi amatiran alias suka nyanyi sendiri. Tiap kali menyanyi, aku merasa tidak bisa menyanyi dengan nada yang tepat. Mainkan sebuah lagu kemudian biarkan aku ikut menyanyi sambil lagunya berjalan, lalu hentikan lagunya…dan bisa bayangkan apa yang terjadi??
*&^%$@@@@@
Iyes, lagu tadi pasti jadi tidak karu-karuan nadanya jadinya, dibuatku -____-
Untuk alasan tersirat dari ulasan sebelumnya, aku tidak lebih suka menyanyi di hadapan orang banyak. Aku tidak suka karaokean. Aku malas pergi ke tempat karaoke meski itu gratis. Aku malu untuk ikut nimbrung nyanyi ketika ada lagu yang sedang main dan sedang hit sehingga memancing pendengarnya bernyanyi meski beramai-ramai menirukan.
Apakah buta nada merupakan penyakit sejenis buta warna? entahlah…
Apa penyebabnya??
Salah satu teman pernah berpendapat itu karena aku tidak bisa memainkan satu pun alat musik.
*Apa iya ya??
Tidak tahu juga. Ya itu lah.. Tidak ada hukum mana pun di negara manapun di dunia ini yang melarang warga negaranya untuk menyanyi. Juga tidak ada peraturan mana pun yang membatasi orang untuk menyanyi.
Hanya peraturan pribadi yang tanpa sadar mematri peraturan dan larangan menyanyi bagi diri sendiri. Bagi yang butanada ini. Bagi orang yang jika menyanyi takutnya malah akan menghadirkan externalitas negatif tersendiri bagi yang lain.
Kadang-kadang juga pengen sih bisa nada-nada gitu. Tapi yaa…..mau gimana lagi. :D

-
1437
12
Jan
ϟ The Books of the Harry Potter Universe
(via nitanydya)
-
1027
12
Jan
I promise you kid , i give more than i get than i get than i get , i just havent met you yet …
(Source: alwaysmile11, via nitanydya)
-
“………..Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil....”
-
Dear Allah...
Dear Allah,..
please help me by securing my heart and iman. If he is meant for me,...
-
“itulah pesimis positif. Tetap melakukan sesuatu, tetapi dengan menekan dorongan keinginan dan...”
-
Tadabur hari ini,, berikan kesembuhan padanya ya Allah
Subuh ini sangat dingin terasa, air wudhu...
